Gaji Utama Hanya Rp 1 Juta, Polisi Berpangkat Brigadir Ini Bangun Pesantren Pakai Gaji Sendiri

Seorang polisi di Nusa Tenggara Barat (NTB) sungguh mulia.
Di tengah kesibukannya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, polisi bernama Junaidin dengan pangkat brigadir polisi kepala atau Bripka, juga meluangkan waktu mengelola pondok pesantren.
Selain mengelola, pesantren bernama Al Fatur Alim itu ternyata dibangun menggunakan dana dari sebagian gajinya yang disisihkan sejak tahun 2009.
Gaji Utama polisi pada pangkat Bripka senilai Rp 1.197.100 berdasarkan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2015 tentang Peraturan Gaji Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Selain menyumbangkan gajinya, dia juga yang menjadi tukang bangunan pesantren dibantu keluarga dan warga.
Dikutip dari Tribratanewstb.com, portal berita yang dikelola Bidang Humas Polda NTB, Sabtu (23/1/2016), berdasarkan posting-an akun Gufran Orez padaFacebook, pesantren itu berada di Dusun So Nggela, Kelurahan Jati Wangi, Kecamatan Asakota, Kabupaten Bima, NTB.
Sementara, Junaidi ditugaskan di Polsek Rasanae, Kota Bima.
Sepulang dari tugas, dia menyempatkan diri menyempatkan diri mengajar hafalan ayat suci Alquran.
Jiwa filantropi dimiliki Junaidin berdasarkan cerita akun Gufran Orez rupanya mengundang pujian dari facebookers.
SUBHANALLAH SEORANG POLISI GANTENG BANGUN PESANTRENBima NTB 200116Bripka Junaidin Adalah seorang anggota kepolisian…Posted by Gufran Orez on Wednesday, 20 January 2016
Mantan Kapolda NTB sekaligus mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Farouk Muhammad termasuk yang memujinya.
Melalui akunnya pada Facebook, anggota DPD RI dari daerah pemilihan NTB ini berkomentar.
“sy bangga punya yunior sprt dik Junaidin. Insya Allah pd suatu kunjungan kerja reses sy usaha meluangkan waktu bertandang di pesntren tsb,” demikian komentar Farouk atas posting-an Gufran Orez.
Akun Ade Syuhada menulis komentar, “Subhanallah,,, di jaman skrg ini, bs di hitung dgn jari profil sprt bpk junaidin ini, maju terus dan semoga berkah ta..”
Akun Mery Mawar menulis komentar, “Subhanallah dan luar biasa Moga keikhlasan mu Dapat membuahkan hasil dan bermanfaat dan moga pesantrenx berguna bagi masyarakat di sekitarx.”
Akun Yuyun Riyanto menulis komentar, “Mudah2an dimudahkan usaha pembangunannya dan semuanya yg berkenaan dg pembangunan pesantren. Dan mudah2an kelak dpt berguna untuk warga sekitar dan warga bima pd umumnya. Aamiin Ya Robbal Alamin.”
Nyambi Ngajar
Selain Junaidin, ada pula polisi berhati malaikat dari Jawa Barat.
Dia Adalah Ajun Inspektur Satu Jaelani,berdinas pada Polsek Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Selain berdinas sebagai polisi, dia juga mengabdi sebagai guru sekolah dasar.
Bukan untuk mencari penghasilan tambahan, melainkan mengabdikan diri di kampung tempat tinggalnya.
Jailani mengajar di SD Budi Asih, Kampung Cigaruh, Desa Wangun Jaya, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur.
Sekolah itu didirikannya bersama warga sekitar, lima tahun lalu.
Sejak itu pula, dia mengajar untuk semua mata pelajaran.
Maklum, sekolah swasta ini hanya memiliki tiga guru.
Jailani mengajar ketika sedang Tak bertugas.
Dia mengajar dengan menganakan baju dinas.
Motor dinasnya pun dikendarai ke sekolah.
Apakah anak-anak takut dengan Jailani yang berpakaian polisi?
“Anak-anak itu tak takut sama saya” ujarnya ceria dalam wawancara seperti ditayangkan stasiun televisi tvOne.
Selama mengajar, Jailani tak pernah digaji.
Dia memang tak mencari penghasilan melalui profesi itu.
Bahkan hartanya pun disumbangkan demi kemajuan pendidikan anak-anak di kampung itu.
Tak Memadai
Bangunan SD Budi Asih Tak permanen. Seperti ditayangkan, kondisinya sangat memperihatinkan.
Lantainya tanah dan atapnya bocor.
Saban hujan, guru harus berhenti mengajar agar murid berjumlah 183 tak basah kuyup.
Siswa enam kelas juga harus bergantian masuk sebab ruangan tak cukup.
Ada kelas sore dan ada kelas pagi.
Jailani dan guru lainnya berharap agar pemerintah setempat peduli dengan kondisi ini.(edi sumardi)

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply