Ini Tips Menyodorkan Pendidikan Seksual Pada Anak Sesuai Tahap Perkembangannya

Tak ada lagi istilah tabu dalam membicarakan tentang masalah seksual di hadapan anak. Sejak dini orangtua sudah harus waspada tentang masalah ini Sebab kejahatan seksual semakin marak akhir-akhir ini.
Anak-anak semakin mudah mengakses internet dan membuka hal-hal yang Tak sepatutnya mereka lihat. Pengaruh teman sebaya juga sangat besar. Kata-kata yang diucapkan oleh teman sebaya seringkali di ‘copas’ begitu saja oleh anak-anak kita tanpa mereka tahu apa artinya. Tugas orangtualah untuk selalu menyaring dan Menyodorkan pemahaman yang benar pada anak.
Untuk Menyodorkan pendidikan seksual pada anak, sebaiknya kita memahami dahulu bagaimana tahapan perkembangan anak secara keseluruhan untuk tiap usia anak. Berikut Adalah Tips Menyodorkan pendidikan seksual pada anak sesuai dengan tahap perkembangannya :
Usia 2- 3 tahun
Pada usia ini kosa kata anak Berawal Dari bertambah. Anak-anak Berawal Dari menirukan kata-kata yang ia dengar dari orang-orang di sekitarnya. Dia Berawal Dari memahami bahwa setiap wujud benda pasti memiliki ‘nama/sebutan’.
Orangtua sebaiknya mengenalkan alat kelamin pria dan wanita dengan nama yang sebenarnya, yakni ‘penis’ dan ‘vagina’, bukan dengan istilah-istilah lain. Hal ini dimaksudkan agar anak Tak bingung dan Keliru persepsi, dan mengajarkan pada anak bahwa alat kelamin bukan untuk diejek atau dipermainkan.
Usia 3-4 tahun
Pada usia ini anak Berawal Dari bertanya “ Kok punya saya beda ama punya kakak?”, “ Kok Dapat ada adik bayi?”. Berikan penjelasan dengan ‘bahasa anak’, bukan dengan bahasa yang rumit, misalnya : “Adik bayi itu dari dalam perut mama, awalnya kecil sekali lalu lama-lama menjadi besar dan siap untuk keluar ke dunia ini”.
Selain Menyodorkan penjelasan Dapat juga dengan menunjukkan contoh tantenya atau siapapun yang sedang mengandung anaknya, Sebab pada usia ini anak lebih mudah mencerna dengan memandang langsung.
Usia 5-6 tahun
Pada usia ini anak sudah Berawal Dari Dapat diberikan penjelasan yang lebih kompleks misalnya dengan menyebutkan tentang bagian rahim seorang wanita. Penjelasan Dapat dilakukan dengan menunjukkan sebuah gambar.
Orangtua Dapat mengatakan “ Di dalam perut mama itu seperti ini keadaannya, ini namanya rahim, ini namanya indung telur, adik bayi nanti bobo di sini selama 9 bulan”.
Usia 6-7 tahun
Pada usia ini kita Berawal Dari mengenalkan tentang hubungan antara laki-laki dan wanita, tentang konsep pernikahan, konsep keluarga, misalnya “ Papa dan mama harus menikah dulu baru boleh punya adik bayi”, mungkin Dapat dikaitkan dengan konsep agama.
Anak-anak juga selalu diingatkan untuk menjaga miliknya, misalnya : “Tak boleh ada yang memegang kamu dari bagian leher ke bawah selain mama atau papa”. Selain itu, tentang kebersihan juga harus selalu kita ingatkan.
Usia 8-9 tahun
Pada usia ini biasanya anak-anak sudah Berawal Dari mendengar tentang hal-hal seksual dari teman-temannya. Agar tetap terpantau, orangtua harus selalu menjaga kedekatan emosional dengan anak sehingga anak mau selalu terbuka.
Katakan pada anak jika ingin mengetahui segala hal tentang seksual, anak Dapat bertanya pada orangtuanya. Pada masa ini, orangtua sudah Berawal Dari harus menjelaskan dengan lebih detail tentang hubungan antara pria dan wanita, misalnya tentang bertemunya sel sperma dan sel telur, tentang penyakit seksual, tentang pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Ajarkan bahwa kita harus selalu menjaga teman-teman kita dan Tak boleh mengejek fisik anak lain.
Usia 9-11 tahun
Pada usia ini anak Berawal Dari masuk ke masa pubertas. Perubahan pada tubuh Berawal Dari dirasakan oleh anak seperti tumbuh jakun, payudara, rambut , dan lainnya. Orangtua Berawal Dari Dapat menjelaskan tentang menstruasi pada anak perempuan atau mimpi basah pada anak laki-laki.
Setiap perubahan yang dirasakan oleh anak sebaiknya selalu didiskusikan bersama sehingga anak Tak mencari tahu dari media atau orang lain. Konsep pacaran juga sudah Berawal Dari diberikan pemahaman pada anak.
Usia 12 tahun ke atas
Pada usia ini anak sudah Berawal Dari paham tentang interaksi antara lawan jenis dan ada beberapa dari anak-anak yang sudah Berawal Dari berpacaran. Tentunya kontrol orangtua harus semakin ketat.
Orangtua harus selalu mengingatkan bahwa “Tak boleh menyentuh bagian tubuh orang lain”, “harus menghargai orang lain”, “Tak boleh memaksa”, dan lain sebagainya. Lakukan pendekatan pada anak dengan lembut, tanpa kekerasan, Sebab semakin kita keras pada anak, mereka akan semakin membangkang dan akan sengaja melakukan hal-hal yang dilarang.
Ingatkan selalu anak-anak untuk :
~ Mengganti baju dalam dua kali sehari
~ Menjaga kebersihan alat kelamin, yakni mencucinya setiap selesai buang air kecil
~ Harus meminta ijin saat masuk kamar orang
~ Jika memiliki masalah pada wajah sebaiknya pergi ke dokter kulit, Tak memakai obat sembarangan
~ Sebaiknya Tak memakai baju yang terlalu ketat
~ Rajin menggunting kuku
~ Menggunakan bra bagi remaja wanita
~ Memakai baju yang sopan
~ Tak pergi berduaan dengan teman lawan jenis
~ Selalu terbuka pada orangtua
(Sumber:http://sayangianak.com)

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply